Thousand Sheets Of Me
Thousand Sheets yang versi cetaknya mencapai 430 halaman itu
tidak menceritakan tentang ribuan kertas sebagaimana judulnya.
Thousand Sheets bercerita tentang ribuan lembaran kisah yang
mengalir dalam kehidupan para karakternya. Kehidupan yang berputar pada
lingkaran pergaulan, pekerjaan, dan juga asmara.
Melalui secangkir kopi yang dinikmati setiap pagi
bersama-sama, Kei dan Karnaka, menjalani hari-hari sibuk mereka. Selalu ada
rapat yang harus dihadiri. Selalu ada laporan yang harus disiapkan. Namun
selalu juga ada waktu untuk menikmati secangkir kopi. Sambil berbincang ringan.
Gadis itu bernama Keisari.
Usia? Hm…usianya memang sudah 25 tahun. Tapi dalam banyak hal dia benar-benar
tak layak menyandang usia sebanyak itu!
Pacar? Belum punya.
Sekalinya punya gebetan, ditolak. Ditolak itu pedih, jendral!
Dan sekarang, ada tiga orang
lelaki yang datang bersamaan.
Bhisma, cowok usia SMA. Kelebihan : dia cowok yang asyik, dengannya Kei
bisa berbagi cerita dengan bebas. Chemistry antara keduanya sangat kuat. Namun
hanya satu kekurangannya, yaitu brondong! Hellooww… gila banget deh kalau Kei
membiarkan dirinya jatuh dalam pesona cowok yang usianya 7 tahun lebih muda!
Dudi, adalah cinta pertama Kei. Dudi cowok yang pertama kali
menorehkan luka teramat dalam di hati Kei. Namun Dudi ingin berrekonsiliasi.
Ingin merajut cerita lama. Dengan sangat serius, yang melibatkan pertemuan
keluarga besar dengan segala tetek bengeknya. Hanya satu komentar : Wow! Tapi
wow hanya ada di bibir. Di hati? Ehm… belum tentu juga sih.
Karnaka. Atau Pak Karnaka. Suami orang. Titik.
***
Suara langkah kaki mendekat.
Hm… dasar tuh anak. Kei bisa membayangkan cowok itu dengan tampang kusut dan
mata masih mengantuk menyeret badannya dengan susah payah ke dapur serta
mendudukkan tubuh jangkungnya di kursi, hanya untuk merosot di kursi serta membaringkan
kepalanya di meja makan serta tidur lagi.
“Elu tidur aja gih! Sepet
gue liat mata belekan elu nongol di dapur! Hari libur juga. Ntar gue bangunin
agak siangan aja. Gue ga buru-buru banget kok pulang.”
“Masalahnya aku sudah tidak
mengantuk lagi, Kei,” terdengar suara bariton dari belakang.
Kei terlonjak dan refleks
menoleh. Hanya untuk melihat Pak Karnaka telah berdiri di belakangnya. Wajah
atasannya itu tampak sedang tersenyum geli melihat Kei yang berdiri blingsatan
di sana.
“Ba..Ba.. Bapak, ehm..
maksud saya, Pak Karnaka kapan pulang?” tanyanya gugup.
“Ehm… sekitar jam satu pagi.
Pesawatku delay hingga jam sembilan malam dari Makassar,” jawab
atasannya itu.
Kei berdiri dengan kagok.
Aduh! Benar-benar gak asyik sama sekali nih. Rasanya seperti tertangkap basah
dalam situasi yang benar-benar tidak enak. Kei terus terang malu banget.
Apalagi penampilannya memang kacau balau di saat bangun tidur. Baju tidur
antiknya ini memang nyaman, tetapi juga memalukan kalau dilihat orang. Cewek
waras gak bakal berfikir untuk pakai kaos tua yang lengannya digunting kutung
sembarangan. Cewek sekarang pasti lebih memilih tank top ketat yang seksi. Dan
celananya juga bakal bikin orang yang lihat sakit mata. Celana pendek batik
yang warnanya sudah tidak jelas lagi karena pernah salah cuci direndam dalam
larutan pemutih.
Padahal Pak Karnaka tampak
begitu rapi, bahkan saat bangun tidur! Rambutnya memang sedikit berantakan.
Tetapi T-Shirtnya pun terlihat tidak kusut. Juga celana piyamanya. Aduh! Ya
ampun! Malu banget dah. Pasti wajah Kei sudah mirip udang rebus.
“Maaf Pak, saya tidak tahu
Bapak pulang malam tadi,” katanya setengah takut.
“Aku yang salah tidak
mengabari secepatnya. Kupikir aku akan pulang dengan penerbangan Kamis pagi.
Tetapi begitu ada info pesawat Rabu malam, kenapa tidak? Lebih cepat lebih baik
kan? Dan sekarang karena sudah ada di sini, sekalian deh. Masakin sarapan buat
aku juga ya?”
Bagaimana Kei bisa menolak
bila Pak Karnaka memintanya dengan begitu manis?
Kei memandang profil
atasannya dengan grogi. “Ehm, Pak Karnaka, eh… maaf, saya nggak pede kalo masak
buat Bapak,” kata Kei salting berat. “Kalo nggak enak gimana?”
Pak Karnaka tertawa melihat
gadis itu belingsatan berdiri dengan muka memerah. Tanpa banyak kata lelaki itu
melangkah dan bergabung bersama Kei di dapur. Membuat gadis itu terkejut.
“Yuk, Kei, kita masak
sama-sama. Aku sudah lama tidak memasak kecuali simple dish, the realy realy
simple just like buttering toast and so on,” Pak Karnaka menertawakan
dirinya sendiri. “Kalau tidak ada resto di apartemen ini mungkin aku dan Bhisma
sudah kelaparan. Thanks to God, there’s something called delivery meal.”
Kei hanya melongo memandangi
atasannya itu. Bukan sekedar atasan, namun atasan yang keren sekaligus cool
abis. Glekh! Air liurnya menetes tanpa terasa. Set dah!
“Aku bantu racik bumbu aja
ya. Kamu yang urusin seafoodnya. Aku tidak terlalu suka berurusan dengan aneka
udang dan cumi itu,” kata Pak Karnaka yang dengan sigap segera meraih pisau
dari tangan Kei sekaligus mengambil alih tempat gadis itu dan mulai berkutat
dengan bumbu yang tadi sudah ditakar oleh Kei.
Mau tak mau Kei mengambil container
berisi aneka seafood beku yang tadi dia keluarkan dari freezer.
Dan, lagi-lagi, bagai dalam mimpi Kei pun segera mengikuti bosnya itu, asyik
berkutat dengan bahan makanan di tangannya. Gile… ternyata asyik bener masak
berdua begini, batinnya seneng banget. Mungkin begini kali ya kalau sudah punya
suami itu. Asyik deh menikmati kegiatan sederhana seperti masak sarapan pagi di
hari libur. Belum-belum otak Kei sudah mengkhayalkan bagaimana rasanya setelah
sarapan pagi, kemudian nongkrong berdua di teras, atau balkon kalau di
apartemen kayak gini, menikmati mentari pagi sambil baca koran.
Hm… rasanya tak sabar pengen
cepat-cepat menikah.
Eh? Kei
tertegun. Mungkin bukan dengan Pak Karnaka kalee! Karena itu sama aja dengan
mengkhayal gak berguna. Jelas-jelas Pak Karnaka itu sudah berumur, punya anak
remaja, dan yang paling penting sudah punya istri.
Hm… Kei sih berharap nanti
suatu saat dia ketemu lelaki yang seperti Pak Karnaka ini. Mungkin secara
kualitas fisik nggak mungkin lah ya. Buat dapet yang tongkrongannya kelas
premium kayak gini kan modalnya musti gede. Modal body dan wajah jelas
nomor satu. Dan itu yang Kei tidak punya. Tetapi berharap dapat yang kualitas
‘dalemannya’ kayak gini mungkin boleh juga kan? Kei kan gadis yang baik,
sederhana, juga tidak sombong. Periang, jujur, bertanggung jawab, serta pekerja
keras. Jadi boleh dong mengimpikan pria yang smart, baik, lembut, sekaligus
penyayang. Amin! Kei mengingat itu dengan baik. Sehingga bila nanti dia berdoa
dia tak akan lupa dengan permintaannya.
Hedehhh…
mimpi Kei, mimpi! Bangun dong ah!
***
Kei membawa dua cangkir
keramik ke dalam kubikel itu saat mendapati Pak Karnaka masih sendirian. Dengan
hati-hati Kei meletakkan cangkir kopi di atas meja kerja atasannya itu.
“Thank you, Kei,”
komentar Pak Karnaka.
Kei hanya mengangguk dan
beranjak menuju ke mejanya sendiri.
“Kei, bentar, sini dulu deh.
Bawa aja kopimu ke sini,” kata Pak Karnaka.
Maka Kei pun berbalik
menghampiri meja Pak Karnaka. “Ya, Pak.”
“Duduk.”
Kei pun duduk. Diam. Nggak
tahu musti ngapain. Iseng dipandanginya atasannya yang sedang menikmati
minumannya itu. Byeuh… Itu tampang. Kenapa tambah lama itu bos tambah cakep
aja. Gimana hati Kei gak ketar-ketir berada sedekat ini dengan makhluk
mempesona kayak gini? Cakep, pinter, tegas, kumplit deh kumplit! Kecuali cincin
di jari manisnya itu yang bikin ilpil. Aduh Kei, susah bener sih jadi orang.
Sekalinya pacaran sama Dudi, eh dikadalin kayak orang bego. Sekalinya jatuh
cinta lagi sama laki, eh lakinya berbini pula.
Eh! What?
Kei mendelik kaget dengan
pikirannya sendiri. Kok gue jadi suka sama Pak Karnaka sih? Sejak kapan? Aduh!
Ini sih malapetaka! Ih… gimana nih? Kok jadi gini? Padahal semula perasaan Kei
kepada bosnya itu biasa aja. Artinya Kei memang suka sih. Tapi bukan suka yang
kayak gini. Sukanya Kei sama pak bos mah gak beda sama sukanya Kei ngeliat
Henry Cavill. Atau Orlando Bloom. Atau Justin Timberlake juga boleh deh. Atau…
pokoknya aktor-aktor keren yang memang diciptakan untuk disukai oleh para mata
cewek yang sehat. Dan Kei berani sumpah matanya sehat wal afiat. Jadi masih
bisa membedakan mana yang bening mana yang butek. Suer deh.
Harusnya perasaannya
kepada Pak Karnaka yang kayak gitu! Nggak kayak gini! Harusnya Kei cukup
kagum dan suka aja, jadi nggak pakai embel-embel jatuh cinta segala! Dan
pastinya gak pakai jedhag-jedhug dan meriang kayak gini! Dodol! Dodol!
Dodol! Kei memaki perasaannya yang bego itu. Demam yang tempo hari dideritanya
itu bisa jadi karena ini. Badannya sudah tahu apa yang dirasakan hatinya, tapi
Kei dengan bodohnya gak nyadar!
“Kei.”
Kei kaget. Jantungnya
langsung berdegup kenceng banget. “Eh, iya, Pak? Kenapa?” tanyanya gugup.
“Kok bengong aja sih? Mana
kicauanmu yang biasa?”
Burung kali berkicau! Gak
tau apa orang lagi dhag dhig dhug dher kayak gini? “Saya musti ngomong
apa, Pak?”
“Apa aja.”
Ih, enak
aja nyuruh ngomong apa aja. Kalau misalkan Kei bilang, ‘I love you, Boss’
itu tampang dijamin gak bakalan cool kayak sekarang deh. Kemungkinannya ada
tiga. Ketawa ngakak, kaget, atau marah dengan menyambit Kei pakai charger
laptop!
***
Nah lho… sudah dapat
gambaran kan siapa gebetan Kei masa kini? Bos sendiri! Ini sih benar-benar
sesat. Karena pertama, pak bos yang agung itu sudah menjadi suami orang! Yang
kedua, Kei tak punya modal sama sekali untuk
mendapatkan lelaki bening, mapan, plus dengan segala kelebihannya itu.
Ibarat mau kredit rumah, DP awal yang 20% itu menentukan. Semakin besar dan
bagus rumah yang mau dibeli, berarti modal yang dimiliki harus besar. Lha, Kei
ini, modalnya hanya cukup buat rumah type 21, tapi berharap beli type 91. Jauh,
man!
Tapi namanya hati tak bisa
diatur, jatuh cinta kok ke Pak Karnaka. Itu kan sama saja bunuh diri?
Jatuh
cinta memang untuk sebagian orang terasa berat. Terutama bila harus jatuh cinta
kepada orang yang salah. Jadinya serba salah. Ketika cinta tak bersambut, galau
pasti. Namun saat cinta bersambut, lalu bagaimanakah? Karena pasti hanya akan
dua pilihan bagi Kei. Dua
pilihan harga mati! Take it, as leftover lover, or leave it. Dan
dua-duanya sama-sama menyakitkan.
Namun, cukupkah bagi Kei menerima sisa
cinta yang diberikan lelaki yang telah memberikan nama bagi wanita lain?
Cukupkah baginya hanya menjadi yang kedua? Sanggupkah dia menghadapi tudingan
miring sebagai ‘wanita simpanan’? Puaskah Kei
menjadi orang yang membuat sepasang suami istri menuju ke jurang perpisahan?
Cukupkah bagi Kei membuat seorang anak menderita melihat pernikahan kedua orang
tuanya hancur berantakan, apapun alasannya?
Dan Kei harus berperang dengan hati
nuraninya.



0 comments: